<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946</id><updated>2011-04-21T17:34:41.348-07:00</updated><category term='Sosok'/><category term='Obituari'/><category term='Teknologi'/><category term='Lingkungan'/><category term='Liburan'/><category term='Entrepreneurship'/><title type='text'>irnasut</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-4901548372144161428</id><published>2009-02-11T06:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T06:35:39.641-08:00</updated><title type='text'>Fenomena Ponari: Kepercayaan dan Harapan yang Dibawanya</title><content type='html'>Di berbagai pemberitaan media elektronik hari ini, muncul berita ternyata Ponari pergi berobat ke rumah sakit di kotanya. Menurut dokter yang di wawancara, Ponari kelelahan… Ya, Ponari, bocah berumur 9 tahun yang baru kelas 4 SD itu, yang diyakini mampu menyembuhkan beragam penyakit, ternyata bisa juga sakit dan perlu pengobatan dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sakitnya Ponari, tidak menyurutkan ribuan orang yang rela mengantri berjam-jam, bahkan berhari-hari. Tidak itu saja, mereka juga tidak surut, meskipun antrian itu telah menyebabkan setidaknya 4 orang terenggut nyawanya karena kelelahan mengantri dan berdesakan. Aparat dan polisi tidak mampu mencegah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, fenomena ini tentu mengundang perdebatan, bahkan polemik. Ada yang berkomentar, layanan kesehatan sudah tersedia di mana-mana. Bagi mereka yang tidak mampu toh layanan kesehatan sudah digratiskan. Bahkan, bisa dirujuk ke tingkat provinsi dan nasional dengan gratis pula, seandainya layanan di daerahnya tidak mampu mengatasi. Lantas, kok masih banyak yang rela mengantri demi mengharapkan kesembuhan dari kesaktian seorang anak dukun kecil? Ada yang berkomentar, itulah gambaran tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat kita, masih percaya pada mistik dan takhyul. Ada pula yang menyatakan itu sudah kultur, sulit untuk diberantas (seperti korupsi aja). Ada pula yang berkomentar seram, itulah gambaran masyarakat kita yang sedang “sakit,” sehingga kebingungan dan akhirnya percaya dengan yang “aneh-aneh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, fenomena Ponari itu menarik dilihat dari tingkat “kepercayaan” dan “harapan.” Persoalan layanan kesehatan mungkin tidak sesederhana dengan persoalan menyediakan layanan gratis, yang seolah-olah telah menuntaskan persoalan akses terhadap layanan kesehatan. Kepercayaan dan harapan menjadi mengemuka karena mereka yang mengantri datang tidak dari kota Ponari saja di Jombang, tetapi dari kota lain, jadi sesungguhnya mereka “mampu” juga untuk mengeluarkan uang, apa pun dan bagaimana pun caranya, demi pengobatan penyakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan kepercayaan dan harapan, secara tidak kentara, ditunjukan juga oleh mereka yang “berada” dan dianggap lebih berpendidikan. Bukan berita yang aneh, mereka yang berpunya dan tipis kepercayaannya, pasti dengan segala upaya akan pergi berobat ke luar negeri untuk menyembuhkan penyakitnya. Mereka yang kepercayaannya setengah-setengah, masih mau mencoba layanan dalam negeri, tapi mereka pun pergi ke rumah sakit swasta berlabel “internasional,” yang mulai tumbuh di perkotaan. Label “internasional” itu entah pula siapa yang memberikannya, meskipun ada rumah sakit yang memang merupakan kerjasama dengan asing. Bagaimana maraknya layanan kesehatan asing atau berbau asing, bisa kita lihat iklannya di majalah-majalah, baik majalan berita atau gaya hidup. Mereka bahkan beramai-ramai membuat advertorial dalam bentuk sisipan. Kalau pun masih ada kemampuan tapi pas-pasan, ya mencoba rumah sakit swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nah&lt;/em&gt;, lantas bagaimana dengan mereka yang memang mendapatkan layanan kesehatan dengan memanfaatkan kegratisan? Bagi mereka yang jelas-jelas menggunakan kartu miskin, ya mau gak mau menerima layanan gratis, apa adanya. Meskipun begitu, mereka toh tidak begitu percaya juga. Beberapa orang pengantri di rumah Ponari yang diwawancara TV mengatakan mereka sudah mendapatkan layanan kesehatan modern. Ada yang memang memang membayarnya, ada yang memanfaatkan layanan gratis. Tetapi, harapan kesembuhan, tidak mereka peroleh. Nah, mereka bersedia berjejalan mengantri, berjam-jam, bahkan berhari-hari dari tempat yang jauh pula, karena pada Ponari ada secercah harapan. Harapan yang di bawa Ponari mirip-mirip dengan harapan yang masih dipercayai akan dibawa oleh Ratu Adil, yang entah kapan akan datangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kok&lt;/em&gt; harapan diletakkan pada hal yang tidak rasional? Itu bisa terjadi karena mereka kehilangan kepercayaan pada hal-hal yang rasional. Kita hentikan pembahasan di sini. Mari kita lihat persoalan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun belum melakukan dengan metodologi yang benar, tapi coba perhatikan pemberitaan di berbagai media cetak, elektronik dan lain-lain. Saya bisa pastikan materi berita tertentu hampir berulang setiap tahun. Sekitar bulan Desember sampai Februari, hampir dipastikan kita akan mendapatkan porsi besar pemberitaan mengenai banjir yang melanda berbagai daerah, dan berbagai dampak yang ditimbulkan seperti  wabah penyakit meningkat, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok (akibat truk-truk pengangkut mengalami kemacetan di jalan), kenaikan kecelakaan lalulintas, terutama sepeda motor karena jalan penuh lubang, dan keterlambatan kereta api karena bantalan rel tergerus banjir. Berita itu hampir berulang setiap tahun dan sepertinya luas wilayah yang terkena banjir bukan berkurang, tetapi malah meluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu masih belum seberapa, karena banjir masih merupakan kombinasi antara akibat ulah manusia dan “kehendak alam.” Tetapi, ada pula persoalan yang jelas-jelas akibat ulah manusia, tetapi berulang-ulang terjadi, karena tidak pernah tuntas diselesaikan atau diantisipasi penyelesaiannya. Lihat saja berita mengenai kelangkaan dan antrian bensin, minyak tanah,dan gas, dan kekurangan pasokan listrik, misalnya. Belum lagi persoalan kemacetan lalu lintas di kota besar, yang kini merambah ke kota-kota sekitarnya. Ah, masih banyak lagi deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, Jakarta, ibukota negara kita tercinta, tidak pernah bisa mengatasi banjir. Penyelesaian banjir Jakarta masih berkutat pada pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT), yang celakanya bukan perencanaan baru. Tetapi perencanaan pada zaman Hindia Belanda, ketika penduduk Jakarta masih sepersepuluhnya. Persoalan BKT pun masih itu-itu juga, masalah anggaran dan pembebasan lahan. Celakanya, sebagai contoh, mereka yang menjadi pengungsi karena kebanjiran ya itu-itu juga. Mereka yang tidak mampu memindah tempat tinggalnya ke lokasi lain yang jauh dari bantaran sungai. Kenestapaan mereka menghadapi banjir, bukan dengan berpindah tempat tinggal. Itu tidak mungkin mereka lakukan. Kalau pun mereka mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang layak dan mencukupi, mungkin mereka butuh menabung lebih dari sepuluh tahun untuk sekadar memiliki tempat tinggal berukuran 21 meter persegi di lokasi yang jauh dari bantaran kali. Ketiadaan harapan itu akhirnya mereka tanggapi dengan kesiap-siagaan mereka untuk bisa memindahkan barang-barang milik mereka yang segitu-gitunya, ke tempat yang mungkin tidak akan dijangkau oleh air banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, banjir Jakarta bukan hanya disebabkan mereka yang tinggal di bantaran kali. Lihat saja, akses ke Bandara Sukarno-Hatta di Cengkareng yang sudah beberapa kali kebanjiran. Apakah banjir itu karena salah perencanaan di awal pembangunan bandara itu? Kalau sudah diperhitungkan dengan baik, kenapa jalan tol akses Bandara bisa tergenang? Apakah teknologi konstruksinya yang tidak kokoh membuat jalan itu jadi mengalami penurunan? Ataukah karena ada kegiatan pembangunan kawasan mewah di utara tol Bandara yang jelas-jelas melanggar lingkungan , sehingga Jakarta kehilangan hutan bakau yang bisa menahan arus rob dari laut di sekitar Bandara, dan kegiatan-kegiatan lain yang menyebabkan pergeseran tanah yang mengakibatkan tol Bandara mengalami penurunan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikotomi kelas ekonomi dan sosial ternyata tidak relevan. Hampir semua kelas dan kalangan turut berperan dalam berbagai persoalan yang muncul. Tetapi celakanya, masing-masing berusaha mengatasi persoalan sendiri-sendiri, dengan kemampuan, cara, dan gayanya sendiri-sendiri. Yang berpunya dengan cara dan gayanya sendiri, begitu juga yang kebanyakan dengan cara dan gayanya sendiri. Lihat misalnya, setiap banjir banyak wartawan media yang sering bertanya kepada korban banjir, mereka yang tidak berpunya itu, “mengapa tidak pindah rumah?” Dan jawabannya itu-itu juga. “Ah sudah biasa.” Paling sesekali ditimpali, “Cuma sekarang banjir datangnya lebih cepat dari kemarin-kemarin.” Atau, “yah kita gak mampu beli rumah di tempat lain.” Jawaban senada, diberikan juga oleh mereka yang mengantri di rumah Ponari. “Habis udah berobat ke mana-mana gak sembuh-sembuh. Yah coba-coba barangkali bisa sembuh. Gak sembuh total juga gak apa-apa, tapi mungkin bisa ringan sedikit penyakitnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan utama yang harus segera dibenahi adalah mengembalikan kepercayaan terhadap sistem berbangsa dan bernegara. Pulihnya kepercayaan hanya bisa diraih oleh tumbunya harapan di kalangan masyarakat. Dalam kasus Ponari, harapan tumbuh karena sudah ada bukti, meskipun hanya satu-dua. Nah, dalam berbangsa dan bernegara, harapan akan tumbuh jika kita bisa setidaknya memfokuskan untuk mengatasi satu atau dua persoalan kronis yang menahun, yang selalu kita hadapi. Itu semua memerlukan kesungguhan dan kesistematisan dalam bekerja dari semua elemen bangsa.  Seluruhnya! Tidak peduli itu eksekutif, legislatif atau Yudikatif. Tidak peduli, apakah aparat pusat, provinsi, kabupaten/ kota atau aparat kelurahan. Pokoknya, semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masak sih&lt;/em&gt;, kita bangsa sebesar ini tidak bisa mengatasi persoalan-persoalan keseharian yang kerap datang berulang-ulang? (Kadang-kadang dengan miris saya berpikir, &lt;em&gt;jangan-jangan&lt;/em&gt; ini asal mula dari peribahasa, “Keledai saja tidak pernah terantuk batu dua kali.”)Saya yakin kita bisa menyelesaikannya, asal dari awal kita semua memang sadar, kita perlu bekerja bersama-sama dengan lebih erat, lebih sungguh-sungguh, lebih terfokus dan sistematis disertai prioritas yang mengutamakan kemaslahatan bersama sebagai sebuah masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-4901548372144161428?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/4901548372144161428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=4901548372144161428' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/4901548372144161428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/4901548372144161428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2009/02/fenomena-ponari-kepercayaan-dan-harapan.html' title='Fenomena Ponari: Kepercayaan dan Harapan yang Dibawanya'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-6175265547941235237</id><published>2009-01-28T20:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T21:00:31.580-08:00</updated><title type='text'>Perang Iklan Pemilu Kian Sengit dan Menarik... : PD vs PDI-P</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Rupanya, pernyataan Ketua Umum PDI-P Megawati SP dalam pembukaan Rakernas di Solo, Selasa, 27/1, tentang permainan yoyo, tidak hanya mendapat tanggapan sengit dari jubir kepresidenan Andi Malarangeng. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hari ini, Partai Demokrat beriklan satu halaman penuh di hal 13 Harian Kompas (yang kebetulan saya baca).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di antara berbagai klaim yang dikemukakan Partai Demokrat, dalam klaim "Apa yang turun?", ada beberapa hal yang menarik perhatian: (saya salin dan kutip dengan sebenar-benarnya bunyi iklan itu)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1) Angka pengangguran terus &lt;strong&gt;berkurang&lt;/strong&gt;, 9.9% pada tahun 2004 menjadi 8.5% pada tahun 2008. (Sumber: Badan Pusat Statistik)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2) Angka kemiskinan semakin &lt;strong&gt;menurun&lt;/strong&gt;, 16.7% pada tahun 2004 menjadi 15.4% pada tahun 2008. (Sumber: Badan Pusat Statistik)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3) Anggaran program-program pro-rakyat &lt;strong&gt;naik&lt;/strong&gt; 3x lipat seperti BLT, BOS, Beasiswa, Jamkesmas, PNPM Mandiri dan KUR tanpa agunan tambahan, Rp 19 triliun tahun 2004 naik menjadi Rp 58 triliun tahun 2008. (Sumber Badan Pusat Statistik)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4) Penghasilan rakyat &lt;strong&gt;meningkat&lt;/strong&gt; 18% pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2004. (Sumber: Badan Pusat Statistik, PDB per kapita)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tetapi ternyata, pada hari ini, juga di Harian Kompas, PDI-P beriklan di hal. 4, di antaranya berbunyi: (juga, saya salin dan kutip dengan sebenar-benarnya bunyi iklan itu)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;...&lt;br /&gt;3. Kesenjangan ekonomi semakin lebar**&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Pemerintah gagal penuhi target menurunkan kemiskinan dan pengangguran***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;** Kesenjangan kaya dan miskin bertambah lebar diukur dari Gini Ratio dari 0.32 (2004) menjadi 0.36 (2007) dan diprediksi bertambah buruk lagi di tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;*** Janji pemerintah di Peraturan Presiden RI No. 07/2005 tak tercapai, diuji dengan data BPS 2004-2008:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jumlah kemiskinan saat ini 15,4% (34,96 juta jiwa), padahal pemerintah &lt;strong&gt;BERJANJI&lt;/strong&gt; menurunkan hingga 8,2% (18,19 juta jiwa) di tahun 2009.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jumlah pengangguran saat ini 8,5% (9,43 juta jiwa), meleset jauh dari &lt;strong&gt;JANJI&lt;/strong&gt; pemerintah untuk menurunkan hingga 5,1% (5,65 juta jiwa) di tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menarik juga kedua iklan yang menggunakan data yang sama, tetapi dengan cara pandang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah lho...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-6175265547941235237?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/6175265547941235237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=6175265547941235237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/6175265547941235237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/6175265547941235237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2009/01/perang-iklan-pemilu-kian-sengit-dan.html' title='Perang Iklan Pemilu Kian Sengit dan Menarik... : PD vs PDI-P'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-955398643119688407</id><published>2009-01-23T04:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T04:58:44.182-08:00</updated><title type='text'>Perlukah Penurunan Harga BBM Dianggap Prestasi?</title><content type='html'>Sore ini di Liputan 6 SCTV, ada pembahasan antara SCTV, Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarif Hasan, dan Ketua Fraksi PDI-P Tjahjo Kumolo tentang apakah klaim turunnya harga BBM tiga kali berturut-turut merupakan sebuah prestasi???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira pembahasan itu, sebagaimana iklannya, kelupaan dengan asumsi-asumsi yang mendasari pengelolaan BBM di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bukankah sejak BBM dinaikan pada pertengahan 2005, pemerintah selakukan menekankan bahwa perhitungan harga BBM dalam negeri didasarkan pada kuotasi harga MOPS di pasar Singapura. Jika asumsi ini kita anggap benar (meskipun mungkin saja ada pihak yang tidak setuju), maka pemerintah telah mengakui bahwa BBM itu adalah komoditas. Dan layaknya komoditas, seperti juga komoditas CPO, kacang kedele, karet, kopi, dan lain-lain, pergerakan harganya akan tergantung pada suplai dan deman di pasar internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun pergerakan harga internasional tidak langsung mendorong kenaikan harga domestik, maka itu lebih disebabkan oleh kebijakan subsidi. Seberapa besar subsidi akan dikucurkan untuk bisa menahan pergerakan harga. Bukankah itu alasan yang selalu dikemukakan ketika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, bagaimana besaran subsidi BBM ditetapkan? Besaran subsidi yang dikucurkan sesuai dengan yang telah dianggarkan dalam APBN, yang merupakan hasil pembahasan antara pemerintah dan DPR. Begitu pula yang terjadi dengan penurunan harga BBM. Bukankah penurunan harga BBM tidak dilakukan serta merta ketika harga minyak bumi dunia turun, tetapi sepertinya ditunggu sampai anggaran subsidi yang sebelumnya pernah dihabiskan untuk menalangi selisih kenaikan harga minyak bumi dunia dengan harga BBM domestik yang belum dinaikan, bisa sedikit impas (alasannya untuk jaga-jaga seandainya terjadi kenaikan lagi). Lagi-lagi alasan itu demi APBN yang merupakan hasil pembahasan DPR dan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, patutkah itu diklaim sebagai prestasi, sementara kita melupakan asumsi-asumsi yang digunakan ketika menaikkan harga BBM???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira pemerintah bisa dianggap berprestasi, jika saat harga BBM dinaikan dan kita menghadapi masalah ketahanan energi, pemerintah bisa melakukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) meningkatkan lifting minyak bumi sampai di atas 1 juta bph (menurut pak Purnomo Yusgiantoro, teori energi ekonomi: ketika harga minyak bumi naik, maka alur investasi akan mengarah ke sektor hulu [karena harga yang tinggi memberi insentif untuk meningkatkan suplai minyak bumi], sementara ketika harga minyak bumi turun, maka investasi akan mengarah ke sektor hilir [turunnya harga lebih disebabkan oleh suplai berlebihan, sehingga tidak ada insentif untuk eksplorasi dan eksploitasi, tetapi lebih diupayakan memanfaatkan kelebihan untuk industri petrokimia dan yang terkait untuk meningkatkan demand]). Pertanyaannya, apakah ini terjadi ketika harga minyak bumi dunia sedang tinggi pada periode 2005-2008?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian minyak bumi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) apakah konsumsi minyak bumi kita bisa ditekan selama periode harga tinggi? Sepertinya, pola konsumsi kita tidak pernah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) apakah konversi penggunaan minyak bumi ke bahan bakar lain yang sama-sama fuel fosil sudah berhasil? Bukankah banyak masyarakat yang kesal, setelah tidak bisa menggunakan minyak tanah, mereka malah harus mengantri berhari-hari tanpa kepastian, hanya untuk mendapatkan gas elpiji 3kg?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) lantas bagaimana dengan rencana mengembangkan biofuel (biosolar dengan campuran kelapa sawit atau jarak, atau bioetanol dengan campuran singkong atau tebu)? Sepertinya, tidak pernah terdengar lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) bagaimana pula dengan sumber-sumber energi baru dan terbarukan lain yang masih banyak dipunyai Indonesia, mulai energi air, angin, matahari dan sebagainya. Kalau pun tidak bisa digunakan sebagai energi primer, sumber-sumber itu bisa menjadi penggerak untuk menghasilkan energi sekunder, yang pada gilirannya mengurangi konsumsi energi primer, terutama yang berasal dari fossil fuel. Pemerintah cukup memfasilitasi segelintir pihak yang telah mulai berkiprah mengembangkan pemanfaatannya, baik dengan memfasilitasi pendanaan maupun dengan penataan kelembagaan dalam penyediaan dan penyalurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga bisa berprestasi, jika ketika harga BBM diturunkan, pemerintah bisa mengendalikan harga-harga yang kemarin-kemarin naik karena harga BBM dinaikan!!! Buktinya, Organda saja sampai hari ini masih ngeyel tidak mau menurunkan tarif. Persoalannya, menurut saya, bukan terletak pada memaksa Organda agar menurunkan tarif!!! Tetapi yang perlu dilakukan adalah menata sektor transportasi secara keseluruhan. Pertama, melalui penataan dan penyediaan sistem transportasi masal. Tetapi untuk sektor yang menyangkut kepentingan rakyat banyak, sepertinya sukar dilakukan. Contohnya, pemerintah sepertinya tidak mampu membantu menyediakan fasilitas pendanaan yang kurang dari sepuluh triliun untuk membangun sistem transportasi masal di Jakarta. Padahal, kalau kita ingat-ingat, pemerintah langsung siap siaga menyediakan dana untuk mengatasi krisis perekonomian dan perbankan, sebagaimana pernah terjadi pada krisis 1997 (bayangkan Rp650 Triliun digunakan untuk bailout para konglomerat Indonesia, yang hanya bisa ditarik kembali lewat BPPN, paling banyak 25-30% atau sekitar Rp435 Triliun lenyap begitu saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun tidak bisa menyediakan angkutan masal, bisa saja pemerintah menyediakan fasilitas pembiayaan kredit yang bisa meringankan para pemilik sarana transportasi, sehingga mereka tidak perlu hanya bisa menyalurkan risiko bisnisnya kepada para pengemudi bis, angkot dan moda transportasi lain, atau bentuk subsidi lain berupa keringanan bea masuk untuk suku cadang dlsb. Ada banyak cara bisa dilakukan sih, kalau mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, berapa triliun rupiah yang bisa dihemat dan dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian, seandainya sektor transportasi tertata. Sehingga, kemacetan bisa dikontrol dan pembangunan infrastruktur jalan bisa dilakukan tanpa tergesa-gesa (melainkan ditata dengan baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang tarif transportasi tidak bisa dikendalikan, ya sepanjang itu pula harga-harga barang lain yang pernah naik mengikuti kenaikan harga BBM, tidak akan pernah turun... Lantas, di mana prestasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan masih akan panjang lebar lagi... karena masih banyak yang perlu dibenahi.... Saya kuatir kita tidak pernah bisa melakukan penataan mendasar, sehingga kita akan terantuk batu mengalami masalah yang sama berulang-ulang... seperti halnya, antrian gas, bensin, minyak tanah dlsb yang terjadi sepanjang waktu dalam 3-4 bulan terakhir (kalaupun sepertinya teratasi di satu wilayah, muncul masalah yang sama di wilayah lain)....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu alam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-955398643119688407?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/955398643119688407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=955398643119688407' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/955398643119688407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/955398643119688407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2009/01/perlukah-penurunan-harga-bbm-dianggap.html' title='Perlukah Penurunan Harga BBM Dianggap Prestasi?'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-3659727812002001992</id><published>2009-01-19T17:09:00.001-08:00</published><updated>2009-01-19T18:42:47.648-08:00</updated><title type='text'>Barack Obama 08 vs Indonesia 09</title><content type='html'>&lt;p&gt;2009... Indonesia akan merayakan pesta demokrasi, hampir setahun penuh, sedari Maret saat kampanye dimulai sampai 20 Oktober ketika Presiden terpilih dilantik...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari ini, 20 Januari, warga Amerika (dan mungkin warga dunia) sedang merayakan kemenangan seorang Barack Obama menjadi Presiden ke 44 negara adidaya... Merayakan kemenangan American Dream... bisa menjadi apa saja yang diimpikan warganya... (be all you can be, begitu slogan Angkatan Darat AS untuk menarik para pelamarnya).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengesampingkan semua persyaratan dan asumsi yang harus dipenuhi, proses reformasi di Indonesia telah memungkinkan, seorang warga biasa di Indonesia untuk menapaki tangga mobilisasi vertikal melalui jalur politik yang kian liberal... di semua tingkatan... mulai dari anggota DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi sampai DPR dan DPD, mulai dari menjadi Bupati/Walikota, Gubernur, berbagai jabatan politik tingkat nasional, sampai Presiden.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi proses reformasi masih menyisakan pekerjaan rumah besar di bidang lain... Ekonomi. Kita mengenal ungkapan, "memperluas kesempatan berusaha... memperluas kesempatan kerja... dan lain sebagainya. Tetapi, pada kenyataannya, proses yang selama ini terjadi tidak pernah memperluas peluang mobilisasi vertikal dalam perekonomian. Coba perhatikan, seberapa banyak pemain baru individual atau korporasi yang menanjak sejak reformasi... Bukankah hanya itu-itu saja. Parahnya lagi, mungkin saja ada beberapa yang baru, tetapi terkait erat dengan mereka yang menapaki mobilisasi vertikal jalur politik...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukankah semua pihak sadar, pemerintah sendirian tidak mungkin mampu menyediakan jutaan lapangan kerja yang dibutuhkan untuk mengurangi tingkat pengangguran Indonesia, apalagi sampai memotong setengahnya??? Tapi, bukankah kita mendapat pelajaran dari krisis 1997, bagaimana dampaknya ketika perusahaan-perusahaan besar yang dibanggakan karena mampu membuka lapangan kerja yang besar, bangkrut karena salah urus dan menimbulkan pengangguran dalam jumlah besar??? Pelajaran itu pun masih ditunjukan juga oleh krisis keuangan yang kini sedang berlangsung... Lantas apa salahnya jika kita bisa semakin memperlebar pintu masuk atau memperluas lapangan yang bisa membuat setiap orang memiliki peluang yang sama untuk melakukan mobilisasi vertikal dalam perekonomian dengan berusaha mandiri... Bukankah Yunus telah membuktikan bahwa itu bisa dilakukan??? Memang sebagai &lt;em&gt;homo economicus&lt;/em&gt;, pemerintah cenderung bekerja efisien dengan membuka kesempatan kepada mereka yang bisa dengan cepat membuka lapangan kerja banyak. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau pun kesempatan kerja terbuka luas dan pengangguran berkurang, struktur kemiskinan tidak terselesaikan di akarnya karena hanya bertopang di lahan yang sempit yang dimiliki segelintir. Selain itu, struktur tinggi yang bertopang di lahan sempit, meskipun sepertinya efisien, tidak tahan menghadapi terpaan angin kencang apalagi goncangan gempa bumi. Memperluas lahan akan memperkokoh struktur tinggi dalam menghadapi berbagai gejolak.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah itu, masih juga ada persoalan kita yakni, mengupayakan agar peluang mobilitas vertikal yang diperluas harus bisa juga mengupayakan terciptanya "keadilan" yang semakin bisa membuka peluang terciptanya pemerataan kesejahteraan. Bukankah bila ini bisa diupayakan, maka pasar kita yang potensial akan menjadi pasar yang semakin riil... yang pada gilirannya akan semakin menciptakan peluang yang luas bagi pertumbuhan???&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya kira kegembiraan yang dirayakan di AS setidaknya bisa memberi kita harapan baru... Tetapi, yang masih mengganjal, akankah pemilu Indonesia sepanjang tahun 2009 menghasilkan perubahan yang memperluas peluang mobilisasi vertikal dalam perekonomian... atau setidaknya memperluas peluang berusaha atau memulai usaha bagi semua lapisan... dan tentunya juga perbaikan formalitas demokrasi yang membuat persaingan mobilitas vertikal dalam politik semakin transparan dan terbuka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin ini hanya impian di siang bolong... karena kita mungkin masih butuh waktu untuk berproses... tapi apa salahnya bermimpi... &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-3659727812002001992?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/3659727812002001992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=3659727812002001992' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/3659727812002001992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/3659727812002001992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2009/01/barack-obama-08-vs-indonesia-09.html' title='Barack Obama 08 vs Indonesia 09'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-7051263301572860581</id><published>2008-12-16T17:22:00.001-08:00</published><updated>2008-12-17T17:22:32.706-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obituari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Entrepreneurship'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosok'/><title type='text'>Prof. Iskandar Alisyahbana ... Selamat Jalan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saya tidak pernah bermimpi akan mengenalnya, Profesor Iskandar Alisyahbana, mantan rektor ITB pada 1970-an, yang gegap gempitanya pada masa itu, pasti semua orang tahu. Maklum, waktu beliau menjadi rektor, saya masih duduk di bangku SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sekitar Maret-April, saya mengikuti beberapa pertemuan dengan kawan-kawan yang berniat memanfaatkan panas kawah gunung api guna membangkitkan listrik (&lt;em&gt;closed circuit&lt;/em&gt;), yang dipimpin pak Reka Rio. Suatu saat, kawan-kawan itu juga membicarakan adanya upaya Profesor Iskandar merancang dan membuat turbin dan generator listrik yang memanfaatkan arus laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu kemudian, HP saya berdering pada suatu siang. Saya angkat, dan di seberang sana, terdengar suara lantang dan lugas. "Apakah saya bisa bicara dengan saudara Irfan Nasution?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, betul, selamat siang, pak," ucap saya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkenalkan, saya, Iskandar Alisjahbana, mantan rektor ITB ... dst ... dst. Saya senang mendengar Anda dan kawan-kawan yang muda mau berpartisipasi mengembangkan energi alternatif ... Saya sedang mengembangkan turbin dan pembangkit listrik yang memanfaatkan air laut ... Sudah ada dua prototipe turbin yang saya buat dengan uang sendiri... Nah, saya butuh bantuan untuk mencarikan dana tambahan... karena paling tidak perlu dibuat lima prototipe agar percobaan bisa berjalan baik..." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget, bingung dan terbengong-bengong ditelepon beliau yang terus nyerocos, hampir tanpa koma. Betapa tidak, beliau tanpa basa-basi, tanpa perlu segala embel-embel, menelepon saya hanya karena semangatnya mengembangkan energi alternatif bisa terwujud. Dari mana pula beliau dapat nomor HP saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya masih bingung, beliau bertanya, "Kapan kita bisa ketemu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami sepakati kita akan bertemu di Bandung, di Politeknik Manufaktur Bandung (dulu Politeknik Mekanik Swiss).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu direncanakan pukul 10.00, dan saya tahu, beliau berangkat dari Jakarta. Pukul 9:00, beliau sudah menelepon saya. "Saudara Irfan, saya sudah di Polman. Anda sudah di mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seperti biasa memang agak telat, selain karena macet, saya juga menunggu kawan di daerah Pasar Minggu, yang kebetulan KRLnya agak telat. Saya jawab, "Prof. maaf, saya baru sampai Karawang Timur. Mungkin agak telat sampai Bandung, kira-kira setengah jam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik. Saya tunggu saja di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba di Polman memang seperti perkiraan, telat setengah jam. Saya masuk ke ruang pertemuan, dan kaget karena selain Prof. Iskandar, juga ada Prof. M.T. Zen, Prof. Reka Rio dan kawan-kawan lain dari Polman, Politeknik Bandung (PolBan), Direktorat Vulkanologi, dan lain-lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di antara yang hadir, hanya saya dan kawan yang terhitung paling muda. Saya sudah mengkeret, rendah diri. Selain karena datang paling telat, juga saya tidak pernah memiliki latar pendidikan teknik. Tetapi, kawan-kawan itu menghargai minat saya mengembangkan energi alternatif, karena saat itu sudah ada tanda-tanda harga minyak bumi yang terus meningkat, juga kelangkaan listrik. Itu melegakan ... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperkenalkan diri masing-masing, maka presentasi pun dimulai... datar... Tetapi, ketika tiba giliran memberi komentar, saya terkaget, dengan bicara Prof. Iskandar yang lugas dan lantang... Waduh, kok setua ini (maaf ya...) masih berenergi dan bersemangat tinggi. Waktu itu, beliau menjelaskan tentang banyaknya alternatif sumber energi yang bisa dimanfaatkan Indonesia. Selain kawah gunung api (Indonesia punya lebih dari 120 kawah yang masih aktif), beliau mengingatkan mengenai hampir 2/3 wilayah Indonesia yang merupakan lautan dan pertemuan dua samudera besar yang menghasilkan arus yang bisa dimanfaatkan. Beliau sendiri sudah mulai merancang turbinnya dengan memanfaatkan teknologi yang sudah dikembangkan oleh Prof. Alex Gorlov di Amerika, juga generatornya sudah dikembangkan beliau dengan bantuan seorang prof dari Inggris. Untuk keperluan itu, beliau menyempatkan diri bertemu dengan keduanya di AS dan Inggris (menurut kawan-kawan, maklum prof Iskandar punya modal besar). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sini, komentar beliau agak lucu dan menarik. "Saya tidak mengembangkan turbin ini dari dasar. Tetapi, dari Internet saya ketemu nama Profesor Alexander Gorlov. Saya surati Gorlov dan saya kenalkan diri siapa saya, yang kebetulan sama-sama bernama Iskandar seperti Gorlov. Akhirnya, Gorlov bersedia memberikan patent dan cetak biru turbinnya. Saya contek saja. Kalau urusan gini, nyontek itu boleh-boleh saja, kecuali kalau lagi ujian!!!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga sempat menceritakan bagaimana upaya beliau membangun inkubasi bisnis di ITB. Dan kalau sudah bicara subyek ini, pasti akan panjang lebar. Beliau sangat mendorong bagaimana kemampuan dan penguasaan di bidang teknologi yang dikombinasikan dengan entrepreneurship, bisa meningkatkan keunggulan dan daya saing bangsa. "Perguruan tinggi jangan hanya jadi menara gading (&lt;em&gt;ivory tower&lt;/em&gt;)," begitu tegas Prof. Iskandar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang subyek ini kebetulan saya agak kuasai. Saya menyatakan pendapat yang agak berbeda. Saya sampaikan, "Sebenarnya, asal disiapkan akses yang dibutuhkan seperti, modal, teknologi produksi, teknologi pemasaran, akses pasar, pasti masyarakat bisa... Tidak melulu harus dilakukan oleh kawan-kawan lulusan perguruan tinggi, tetapi perguruan tinggi bisa menjadi energi penggerak atau pendorongnya bagi masyarakat luas. Sehingga, partisipasi masyarakat bisa meningkat luas, " begitu komentar saya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya sampaikan juga contohnya. Saya timpali juga, "Bukankah Indonesia selain dikenal sebagai bangsa pelaut, juga sebagai saudagar... mereka menggunakan laut untuk berdagang bahkan sampai ke Madagaskar dan Afrika Selatan ..." Beliau agak terkejut didebat begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda sekolah di mana?" tanya beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya lulusan UI, tepatnya Universitas Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fakultas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hukum, prof."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu temannya dari mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Sosiologi dan Filsafat Agama, prof,” jawab kawan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau geleng-geleng kepala, entah apa maknanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pun usai... saya kira saya hanya akan bertemu beliau sekali itu saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ternyata energi dan semangat beliau tidak pernah habis. Sejak itu, saya beberapa ditelepon, uniknya, selalu setiap Sabtu pagi, antara pukul 05.30-06.30. Bayangkan... di hari libur, sepagi itu beliau menelepon... hanya untuk berdiskusi... termasuk ketika ramai diberitakan kasus penemuan blue energy Joko Suprapto... beliau menyampaikan keluhannya hampir satu jam, bertelepon dengan saya, sedari pukul 5:30 pagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat beberapa kali lagi bertemu beliau. Juga, saya sempat bertemu di kantor Kebon Kacang. Di berbagai pertemuan itu, saya mendapat banyak pelajaran berharga. Pertama, beliau tidak pernah merasa sebagai senior, tahu segalanya... padahal beliau seorang profesor, mantan rektor ITB, siapa yang tidak kenal... Kedua, masih sebagai senior, beliau mencari sendiri no HP saya (akhirnya saya tahu dari pak Reka Rio), hanya karena bersemangat untuk segera mewujudkan gagasannya. Ketiga, beliau selalu ingin menyiapkan generasi penerus... Selain saya dan kawan-kawan, ada beberapa kelompok lain yang beliau bina dalam kaitan dengan energi alternatif, termasuk mahasiswa ITB dan Polban. Keempat, semangat dan energinya tidak pernah habis, tidak kenal waktu, tidak kenal Sabtu atau Minggu... Kelima, disiplin... terutama tepat waktu... Terakhir, semangat itu tercermin dari gaya bicaranya yang berapi-api, sambil pukul-pukul meja... (Gaya ini sempat membuat saya kaget...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, beliau kembali mengajak bertemu. Kali ini, pada hari Minggu, 11 Mei 2008, (hari Minggu ???? Waduh-waduh... gak pernah patah semangat.), jam 10:00 pagi di rumah beliau di Ciumbuleuit, Bandung. Beliau ingin menunjukkan prototipe generator yang kebetulan ada di rumahnya, dan terus siangnya, melihat prototipe turbin di Polban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi itu, setelah berbasa-basi, kami segera ditunjukan prototipe generator listrik yang bisa menghasilkan daya 300 watt di garasi rumahnya. Meskipun masih prototipe (dengan bentuk yang masih seadanya), saya bisa melihat bagaimana kesungguhannya dalam mencoba dan menerapkan sesuatu... dan tentunya agar bisa dimanfaatkan masyarakat... Garasi itu laiknya laboratorium sederhana. Asistennya, ya, para pesuruh/pembantunya di rumah itu. Ini menggambarkan juga bagaimana beliau bisa melibatkan mereka. Profesor atau akademisi yang jempolan tentunya bisa menjelaskan setiap persoalan dalam bahasa sederhana, bukan dengan penjelasan yang rumit-rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyaksikan dan mendapat penjelasan tentang generator, kami pun meluncur ke Polban untuk melihat turbin Gorlov. Nah, kali ini yang menjelaskan bukan hanya beliau, tetapi juga salah seorang kader mudanya, pak Undiana Bambang. Dua prototipe turbin itu sudah pernah diujicoba di Jatiluhur, tetapi beliau berkeinginan dicoba di laut agar bisa mendapat hasil yang sebenarnya. "Saudara Irfan, mungkin bisa bantu dengan teman-teman yang mengerti laut. Coba tolong carikan perairan yang kecepatan arusnya 2 mil per sekon," begitu permintaan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sebelum saya bisa mewujudkan upaya beliau untuk melakukan uji-coba di laut sekitar Teluk Jakarta, yang sempat kami bicarakan, beliau keburu dipanggil sang Khalik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan prof Iskandar... Inna lillahi wa inna ilaihi Rajiun&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280582893965643730" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUhmKhHTj9I/AAAAAAAAACg/oM4Mr_7oF5E/s320/P4210250.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Prof. Iskandar (tengah, berbatik biru) sedang berbicara dalam pertemuan di Polman, Bandung, 21 April 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280861666860088754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUljtPEsPbI/AAAAAAAAADA/sL2xZhv8VDE/s320/P5110282b.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Prof. Iskandar (paling kiri) sedang mendengarkan paparan dalam pertemuan di rumah beliau, Bandung, 11 Mei 2008 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280862990089456882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlk6QfKDPI/AAAAAAAAADI/QKKu0zZLC1Y/s320/P5110284b.JPG" border="0" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Menjelaskan cara kerja generator listrik yang akan di pasang di atas turbin Gorlov, yang diceburkan di laut,&lt;br /&gt;untuk memanfaatkan arus laut dari segala arah sebagai tenaga penggeraknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280864903819630818" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlmppr_GOI/AAAAAAAAADQ/Cor1kf-jGpk/s320/P5110286b.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Menjalankan generator &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280873004591968178" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUluBLanb7I/AAAAAAAAADw/fH9nKhnrhko/s320/P5110290b.JPG" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Satu unit prototipe turbin Gorlov&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280873000400172786" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUluA7zNtvI/AAAAAAAAADo/tKWBUfUkSbY/s320/P5110287b.JPG" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dua unit prototipe turbin Gorlov ditumpuk jadi satu, yang akan dimasukan ke dalam laut.&lt;br /&gt;Jumlah tumpukan tergantung kedalaman dan besarnya arus laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280873009273853138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUluBc23VNI/AAAAAAAAAEA/ZlJvHUXfd2A/s320/P5110294b.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dua unit turbin Gorlov dalam perbanding dengan tinggi manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280871341065950066" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlsgWTG03I/AAAAAAAAADg/O7-bsgsTKGs/s320/P5110288b.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Pak Undiana Bambang sedang menjelaskan cara kerja turbin Gorlov.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280873002906639890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUluBFIzXhI/AAAAAAAAAD4/2VxeKL5pfMQ/s320/P5110292b.JPG" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Prof Iskandar memberi penjelasan tambahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-7051263301572860581?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/7051263301572860581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=7051263301572860581' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/7051263301572860581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/7051263301572860581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2008/12/prof-iskandar-alisyahbana-selamat-jalan.html' title='Prof. Iskandar Alisyahbana ... Selamat Jalan'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUhmKhHTj9I/AAAAAAAAACg/oM4Mr_7oF5E/s72-c/P4210250.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-5719855919599136037</id><published>2008-12-15T09:50:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T10:14:32.076-08:00</updated><title type='text'>Angkot oh angkot ...</title><content type='html'>Angkot ugal-ugalan, berhenti seenaknya untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, atau &lt;em&gt;ngetem&lt;/em&gt; di sembarang tempat, pasti semua orang sudah merasakan kesalnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya punya beberapa catatan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya sering melaju antara Depok dan Bogor, dan sekali-kali memanfaatkan jasa angkot ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bogor, ada keunikan tersendiri. Pada beberapa jurusan yang menghubungkan Kota dan Kabupaten Bogor, kalau Anda perhatikan pasti ada dua warna angkot yang melayani rute tersebut. Semisal, angkot dari Pasar Anyar (Kota Bogor) ke Bojong Gede (Kab. Bogor). Angkot warna hijau melayani rute (yang tertulis di badan angkot) Pasar Anyar-Bojong Gede. Sementara, angkot warna biru melayani Bojong Gede-Pasar Anyar. Kalau ditanya kenapa begitu, tidak seorang pun tahu jawabnya. Yang mereka tahu, angkot di Bogor diatur oleh DLLAJ Propinsi Jawa Barat karena angkot melayani rute AKDP alias Antar Kota Dalam Propinsi...&lt;br /&gt;Yang menjadi masalah jumlah angkot di Bogor jadi membludak... Bahkan hijaunya Bogor bukan lagi karena tanaman dan pohon rindang, melainkan karena banyaknya angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di Depok, angkot yang hanya diatur oleh DLLAJ Kota Depok, jumlahnya tetap saja membludak. Bagi Anda yang pernah kemalaman pulang ke atau dari Depok, coba Anda lihat di pertigaan Jl Margonda, Jl A R Hakim atau di seberang Terminal Depok. Pernahkah Anda tidak melihat satu angkot pun? Saya kira jam berapa pun Anda memerlukannya malam hari, mulai dari jam 10 malam sampai subuh, Anda tidak akan pernah merasakan kekurangan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita anggap angkot beroperasi 24 jam, dan maksimal seorang supir bisa mengemudikan angkota selama 8 jam, maka dalam sehari angkot perlu mempekerjakan 3 orang supir bergantian. Bisa dibayangkan berapa tenaga kerja yang bisa diserap oleh sektor angkot (yang semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan mereka pekerjaan yang layak atau sebaliknya menyediakan bagi publik transportasi yang layak ???) Saya dengar-dengar angkot rute 03 Depok-Sawangan atau rute 02 Terminal Depok - Depok II atau rute 06 Terminal Depok - Simpangan Depok/Cimanggis, masing-masing berjumlah sekitar 1.000-1.500 angkot. Berarti ada sekitar 3.000 sampai 4.500 tenaga supir yang tertampung mencari nafkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem yang berlaku bagi pengemudi angkot adalah begitu dia mengemudikan angkot maka seluruh tanggung jawab ada di pundaknya. Kalau setoran yang menjadi kewajibannya kepada pemilik tidak terpenuhi, supir angkot dianggap berutang. Dia juga bertanggung jawab atas kerusakan kecil, BBM, penumpangnya dan berbagai retribusi lain... Kalau terjadi kecelakaan maka tanggung jawabnya bukan hanya kepada korbannya, tetapi juga kepada pemilik angkot...&lt;br /&gt;Begitu berat beban mereka???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di tengah berbagai perdebatan mengenai dicabut tidaknya subsidi BBM, tidak pernah ada yang mengetahui atau memperhitungkan betapa besarnya subsidi yang diberikan (bukan diterima lho!) oleh supir angkot dan bus kota, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, masa supir memberikan subsidi? Ya! Bukankah mereka mau mengangkut anak-anak sekolah dengan ongkos yang jauh lebih kecil dari yang seharusnya. Nah jasa para supir angkot dan bus kota terhadap para pelajar ini, sepertinya belum ada yang &lt;em&gt;ngeh&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba deh anda perhatikan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-5719855919599136037?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/5719855919599136037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=5719855919599136037' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/5719855919599136037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/5719855919599136037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2008/12/angkot-oh-angkot.html' title='Angkot oh angkot ...'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-7833475142365438614</id><published>2008-12-15T09:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T09:48:58.514-08:00</updated><title type='text'>Sekadar Berbagi Menjelang 2009</title><content type='html'>Yang tengah menjadi terus berusaha menjaga citra, tapi sepertinya kurang mendasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin menantang mengusulkan yang juga tidak mendasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah, seharusnya ada yang ditawarkan, sebagaimana kondektur bis selalu berteriak-teriak ke arah mana jurusan bus/ bus kota/ angkot mereka hendak menuju???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hanya meneriakkan atau menarik-narik penumpang supaya menaiki bus/ bus kota/ angkot atau dengan menawarkan kenyamanannya saja ... tanpa memberitahukan tujuan, adakah penumpang yang naik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sebagai manusia ingin menjadi sesuatu selama hayat kita di kandung badan, tidakkah kita sebagai bangsa memiliki keinginan yang sama???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-7833475142365438614?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/7833475142365438614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=7833475142365438614' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/7833475142365438614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/7833475142365438614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2008/12/sekadar-berbagi-menjelang-2009.html' title='Sekadar Berbagi Menjelang 2009'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-5616016516848147657</id><published>2008-12-04T12:05:00.001-08:00</published><updated>2009-01-10T21:28:51.451-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liburan'/><title type='text'>Nginep di Pompa Bensin</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika libur Lebaran tahun 2007, tanpa direncanakan kami sekeluarga, saya, Leny - isteri saya, dan anak-anak Amrissalam (Ais), Basyir, dan Ernesto, pergi ke Bandung. Tujuannya ingin melihat kawah Putih di Gunung Patuha, Ciwidey, Bandung Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore jam 15.00, kami sudah sampai di kawasan Ciwidey. Jalanan macet dan kendaraan bergerak sangat perlahan... Menikmati kemacetan, tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 19.00 dan kami masih belum sampai juga ke tujuan. Akhirnya, diputuskan untuk balik arah dan mencari penginapan di sekitar situ. Karena tanpa rencana (padahal, saya paham kalau penginapan di Bandung dan sekitarnya selalu penuh di musim liburan atau akhir pekan), tidak ada satu penginapan pun yang bisa menampung kami sekeluarga. Full atau full-booked!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak usul untuk mencari di Pengalengan, di Bandung Selatan juga tetapi ke arah Timur/Tenggara. Tidak ada juga. Kami mencarinya sampai ke Wisma Perkebunan Malabar milik PTPN VIII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung...&lt;br /&gt;Leny mencoba menelepon beberapa penginapan di Bandung. Rencananya, kalau tidak dapat di Ciwidey atau Pangalengan, kita akan kembali ke Bandung dan menginap di kota itu. Tidak ada juga... Sambil bingung-bingung, kami berhenti di Pasar Pangalengan menikmati bajigur dan jajanan malam khas Tatar Sunda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 22.00, kami putuskan untuk bergerak... Sayangnya, karena mungkin kecapaian, saya agak mengantuk... Waduh??? Leny usul, "ya udah berhenti aja dulu di pompa Bensin."&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah mengisi bensin, kami pun parkir di pompa bensin, dan saya pun tertidur pulas selama 2 jam. Anak-anak pun tertidur, kecuali Leny... dia setia menjaga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah omong-omong dengan isteri, mobil pun bergerak keluar dari Pangalengan. Sebenarnya, menurut rencana, tujuan kami berikutnya adalah mengunjungi salah satu waduk yang ada di sepanjang aliran Sungai Citarum: Waduk Saguling, Cirata, dan Jati Luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, saya bilang ke isteri, "kita akan sampai di Padalarang sekitar jam 2:00, terus ngapain? Khan gak mungkin ke Waduk subuh-subuh?"&lt;br /&gt;"Ya, terus gimana?" Leny malah balik bertanya.&lt;br /&gt;"Paling banter, kita berhenti lagi di pompa bensin. Khan, di Padalarang, ada pompa bensin yang menyediakan fasilitas toko, tempat makan, mushalla, toilet, juga toilet VIP."&lt;br /&gt;"Ya udah, kita berhenti di situ aja," tukas isteri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289901345974168082" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SWmBPz-mqhI/AAAAAAAAAEI/M0HYO15PYWM/s320/DSC00197-resize.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Jam 2:30, kami pun sampai di pompa bensin yang dimaksud. Setelah ke toilet, dan jajan serta menikmati kopi, saya pun tidur kembali. Sekitar jam 5:00, anak-anak mulai bangun dan sibuk jajan, mungkin mereka lapar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya merasa terenyuh. Liburan seharusnya menyenangkan, jadi malah sengsara, karena tanpa rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, Ais sibuk mencari baju ganti dan handuk. Saya tanya, "Mau ngapain? Tumben, mau mandi pagi-pagi." Ais biasanya malas untuk mandi pagi-pagi, kalau sedang libur di rumah.&lt;br /&gt;"Mau nyobain toilet VIP. Kata penjaganya, 'Ada air panas buat mandi," ujar Ais.&lt;br /&gt;"Berapa bayarnya?"&lt;br /&gt;"Rp20.000."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun bergegas mandi. Melihat abangnya pergi, kedua adiknya pun mulai sibuk bertanya, "Abang Ais, mau kemana pa?" tanya Ernesto atau Nesto.&lt;br /&gt;"Mandi."&lt;br /&gt;"Ngapain, bang Ais mandi?' tanya Basyir.&lt;br /&gt;"Mau nyobain toilet VIP..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mandi, Ais seperti biasa selalu mengumbar hal-hal baru kepada adik-adiknya.&lt;br /&gt;"Syir, toiletnya enak, bersih, ada air panas, hair dryer, sama pake AC. Cobain, mandi gih."&lt;br /&gt;"Mau dong, Basyir juga pengen mandi," ujar Basyir yang selalu ingin mencoba pengalaman abangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya kontan, "Jangan mandi pagi-pagi, khan tadi tidurnya gak bener, nanti sakit."&lt;br /&gt;"Yah, kok abang boleh? Khan gak apa-apa, ada air panas," tanya Basyir.&lt;br /&gt;"Nesto juga dong, mau mandi kayak bang Ais, di toilet VIP?"&lt;br /&gt;Akhirnya, isteri saya, tidak kuasa menahan mereka. Dan ketiganya pun pergi ke toilet VIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 6:30, kami melanjutkan perjalan ke Saguling. Anak-anak mulai mempelajari bagaimana air sungai dibendung untuk menghasilkan listrik. Setelah mereka puas, kami pun mulai mengarah ke Jakarta. Tetapi, tidak lewat Puncak. Kami mengarah balik ke Bandung, lewat Cipularang dan mampir ke rumah kawan di Subang. Lumayan... makan siang gratis sekalian silaturahmi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289901704691913618" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SWmBksTlE5I/AAAAAAAAAEQ/4xlkJSdO_1E/s320/DSC00210-rotate-resize.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289902112131198594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SWmB8aIrLoI/AAAAAAAAAEY/wNWUd8p2QQk/s320/DSC00211-rotate-resize.JPG" border="0" /&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289902409315248450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SWmCNtO36UI/AAAAAAAAAEg/HkFqpSjY198/s320/DSC00206-resize.JPG" border="0" /&gt; &lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Jakarta, saya sampaikan permintaan maaf kepada isteri dan anak-anak karena ketidaknyamanan yang mereka alami. Eh, Basyir malah bilang, "Ini menyenangkan... berpetualang... tidur di pompa bensin."&lt;br /&gt;Ah mungkin, Basyir hanya menyenangkan hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sekitar tiga-empat bulan kemudian, Ernesto nyeletuk, "&lt;em&gt;Pah&lt;/em&gt;, kapan kita jalan-jalan nginep di pompa bensin lagi. Nesto pengen lagi. Khan asyik."&lt;br /&gt;"Lha, bukannya gak enak, khan tidur berdesakan di mobil kecil."&lt;br /&gt;"Justru asyik &lt;em&gt;pah&lt;/em&gt;, Basyir cerita ke teman-teman, mereka semua belum pernah &lt;em&gt;ngerasain&lt;/em&gt; tidur di jalan."&lt;br /&gt;"Iya &lt;em&gt;pah&lt;/em&gt;, temen-temen Nesto di TK B, &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; pernah liburan kayak gitu."&lt;br /&gt;"Ya, deh, kapan-kapan," jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan itu diulang kembali, baik oleh Basyir atau Ernesto... Ais sendiri menyenangi bepergian tanpa rencana, yang sebenarnya sering juga kami lakukan. Itu kadang-kadang saya dengar dari percakapannya dengan kawan-kawannya. "Eh, gua gak jadi ke rumah loe ya. Habis, gua tiba-tiba diajak bokap pergi ke luar kota nih. Biasa pergi tanpa rencananya," Ais menelepon temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya merenungkan ternyata apa yang kita pikirkan, tidak selalu sama dengan yang dipikirkan anak-anak. Saya kuatir dengan ketidaknyamanan yang harus mereka alami. Mereka malah &lt;em&gt;excited&lt;/em&gt; dengan pengalaman baru dan mungkin aneh... Bisa jadi, keanehan itu bisa membuat anak-anak bisa bercerita bangga kepada teman-temannya. Seperti ketika Basyir bertelepon dengan temannya sepulang kami ke rumah," Gua dong, abis liburan. Nginepnya di pompa bensin."&lt;br /&gt;"Lha, Syir, kok nginep di pompa bensin?" tanya temannya.&lt;br /&gt;"Asyik khan. Loe pasti belum pernah, iya khan," ujar Basyir dengan bangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin... mencoba yang baru dan aneh merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-5616016516848147657?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/5616016516848147657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=5616016516848147657' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/5616016516848147657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/5616016516848147657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2008/12/nginep-di-pompa-bensin.html' title='Nginep di Pompa Bensin'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SWmBPz-mqhI/AAAAAAAAAEI/M0HYO15PYWM/s72-c/DSC00197-resize.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-4033260515177576910</id><published>2008-11-25T08:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T13:02:51.287-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><title type='text'>Kantong jaring-jaring</title><content type='html'>Minggu ini, saya baca artikel di majalah Tempo, "Desa Adat tanpa Sampah Plastik" dan "Gunakan Kantong Pakai Ulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup menarik. Artikel itu kembali mengingatkan, lagi-lagi, pengalaman baru saya di Dhaka, Bangladesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari tiba di sana, saya berangkat ke luar kota. Fasilitator mengingatkan perjalanan akan memakan waktu 5 jam. Mengingat tingginya kelembaban di Bangladesh, kami dianjurkan untuk membawa bekal air minum dalam botol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegaslah saya membeli air minum dua botol ukuran satu liter. Saya minta diberi kantong plastik, lazimnya di Indonesia. Alangkah kagetnya, karena saya diberi bukan kantong plastik, tetapi kantong jaring-jaring dari serat rami (mirip jaring di tiang bola basket).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masih awam, saya hanya merasa, "Aduh negara ini, saking miskinnya, sampai-sampai tidak bisa menyediakan kantong plastik. Jaring-jaring begini khan menyusahkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama, setelah kembali ke Dhaka, saya pergi ke swalayan membeli beberapa keperluan. Lagi-lagi, semua belanjaan dimasukan ke kantong yang terbuat dari anyaman rami (jute), meskipun tidak berbentuk jaring-jaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain waktu, saya berbelanja di tempat lain. Kali ini menarik. Kantong belanjanya terbuat dari kertas koran bekas (dulu kayaknya kita di Indonesia pernah menggunakannya, dan mungkin di beberapa daerah masih menggunakannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hendak pulang saya membeli oleh-oleh. Kantong belanjanya tetap dari kertas, hanya kali ini kertas daur ulang, lengkap dengan cetakan nama toko &amp;amp; alamatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, suatu kali ketika berbincang-bincang saya tanyakan, apakah Bangladesh memang susah mendapatkan plastik atau mungkin harganya kelewat mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, ternyata di Bangladesh sudah 5 tahun lebih dilarang menggunakan kantong plastik untuk belanja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya... Bangladesh termasuk salah satu negara terpolusi. Kebijakan yang diambil untuk menguranginya adalah meningkatkan penggunakan gas alam untuk memasak dan kendaran (lihat dua posting saya terdahulu) dan melarang penggunaan kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga ya ternyata...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-4033260515177576910?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/4033260515177576910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=4033260515177576910' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/4033260515177576910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/4033260515177576910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2008/11/kantong-jaring-jaring.html' title='Kantong jaring-jaring'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-7247017725795695687</id><published>2008-11-25T08:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T08:11:34.193-08:00</updated><title type='text'>Pipa Gas di Perkampungan Kumuh Dhaka, Bangladesh</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya, perjalanan saya ke Bangladesh pada Agustus-September 2008, untuk mengikuti kegiatan yang terkait dengan keuangan mikro. Saya mengunjungi Grameen Bank, Grameen Trust, ASA, BRAC, dan BURO Bangladesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu acara dengan Grameen Bank adalah mengunjungi salah satu organisasi mitra Grameen Bank, yang beroperasi di sebuah pasar kumuh di barat daya Dhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar yang saya kunjungi di Dhaka mirip dengan pasar tradisional yang umumnya ada di Indonesia. Kumuh. Apalagi saat itu hujan turun dengan lebat, jadi becek sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami mengunjungi salah satu kelompok peminjam, yang tinggal di tengah pasar, saya tertarik dengan pemandangan yang ada di ujung gang, kira-kira 3 meter sebelum rumah yang kami tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung gang itu, saya lihat ada sekumpulan pipa-pipa kecil yang diatasnya ada semacam katup dan meteran. Saya tanyakan kepada fasilitator, "Pipa itu untuk apa ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, itu pipa gas," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pipa gas? Untuk siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya untuk masyarakat yang tinggal di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang tinggal di pasar ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya diam. Bingung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya masuk ke rumah yang kami tuju. Rumah kecil, hanya ada satu kamar tidur, berukuran sekitar 3x3 meter dengan MCK dan dapur bersama di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, fasilitator masih ingat dengan pertanyaan saya. Dia segera mencolek saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu lihat, kompor gas. Masyarakat di sini memasak menggunakan gas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, kagum saya... ternyata perkampungan kumuh pun dilayani oleh gas pipa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat dengan harga gas di Indonesia, yang terus naik, dan tidak pernah turun, saya pun bertanya, "Memangnya berapa harga gas di sini? Apakah mereka mampu membayarnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa pun pemakaiannya, seluruh pelanggan di sekitar pasar sini, membayar tetap sebesar 400 taka per bulan (kira-kira Rp50.000)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian, saya pergi ke bagian utara Dhaka, sekitar 30km dari pusat kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, saya menjumpai kumpulan pipa-pipa gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas aja, saya gak pernah melihat toko atau warung yang menumpuk tabung-tabung gas seperti di Jakarta....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan, mungkin konversi minyak tanah ke elpiji akan mendapat sambutan dari masyarakat Indonesia, seandainya elpiji disalurkan melalui pipa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu terjadi, berita seperti tidak di bawah ini mungkin tidak akan muncul "terlalu sering":&lt;br /&gt;Pasokan Elpiji Terputus (Kompas, 10 Desember 2008) &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/10/02410715/pasokan.elpiji.terputus"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/10/02410715/pasokan.elpiji.terputus&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280044456617032146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUZ8dVrtudI/AAAAAAAAABQ/87ax3L2kgTU/s320/P8180013.JPG" border="0" /&gt;Suasana pasar kumuh, tengah kota Dhaka, Bangladesh &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280044459440215186" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUZ8dgM0FJI/AAAAAAAAABY/9ooY7pBKo8I/s320/P8180025.JPG" border="0" /&gt; Simpul distribusi pipa gas, di pasar kumuh, tengah kota Dhaka, Bangladesh&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280044470079202226" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUZ8eH1WI7I/AAAAAAAAABg/2cHxiinGGQs/s320/P8180022.JPG" border="0" /&gt;Seorang ibu sedang memasak di halaman rumah, di pasar kumuh, tengah kota Dhaka, Bangladesh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280044477527883426" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUZ8ejlP_qI/AAAAAAAAABo/vl_Z2CNWPqQ/s320/P9130067.JPG" border="0" /&gt;Simpul distribusi pipa di perkampungan di utara kota Dhaka, Bangladesh&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280044485303913666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUZ8fAjMzMI/AAAAAAAAABw/rUkTpL0gv3c/s320/P9130062.JPG" border="0" /&gt;Kompor gas di perkampungan di utara kota Dhaka, Bangladesh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-7247017725795695687?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/7247017725795695687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=7247017725795695687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/7247017725795695687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/7247017725795695687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2008/11/pipa-gas-di-perkampungan-kumuh.html' title='Pipa Gas di Perkampungan Kumuh Dhaka, Bangladesh'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUZ8dVrtudI/AAAAAAAAABQ/87ax3L2kgTU/s72-c/P8180013.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-606905254026267946.post-227271518354995916</id><published>2008-11-25T07:45:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T09:37:42.193-08:00</updated><title type='text'>CNG... autorickshaw</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ini sekedar catatan perjalanan ke Bangladesh pada Agustus-September 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalanan kota Dhaka, banyak saya jumpai kendaraan beroda tiga. Ada yang seperti bajaj di Jakarta, tetapi berwarna hijau, dan mereknya bukan Bajaj, melainkan Uttara. Ada juga kendaraan beroda tiga berwarna hijau, tetapi motor yang dimodifikasi, sehingga mirip bajaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan beroda tiga lainnya adalah &lt;em&gt;rickshaw&lt;/em&gt;. Rickshaw tidak bermesin, tetapi ditarik/ digenjot tenaga manusia. Berbeda dengan becak, pengemudi &lt;em&gt;rickshaw&lt;/em&gt; menggenjot becak di depan penumpangnya. Ada dua jenis: &lt;em&gt;rickshaw&lt;/em&gt; penumpang dan &lt;em&gt;rickshaw&lt;/em&gt; barang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUaRw85gWZI/AAAAAAAAACI/xvbf0DaxSmU/s1600-h/P8140399.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280067883305556370" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUaRw85gWZI/AAAAAAAAACI/xvbf0DaxSmU/s320/P8140399.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Rickshaw&lt;/em&gt; penumpang di Rajshahi University, di barat laut Bangladesh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280068904561068114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUaSsZXyyFI/AAAAAAAAACQ/625XJkbPO98/s320/P8130373.JPG" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Rickshaw&lt;/em&gt; barang sedang menanti muatan di pinggir sebuah pasar di Rajshahi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengetahuan saya berbahasa Bengali atau Bangladesh sangat minim. Jadi, ketika hendak keluar dari hotel, sekedar jalan-jalan, saya minta ke belboy untuk dipanggilkan bajaj. Belboy yang bahasa Inggrisnya pas-pasan tidak paham maksud saya. Berkali-kali saya jelaskan, dia tidak paham juga. Sampai akhirnya, manajernya datang dan saya jelaskan maksud saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang manajer segera menyahut, "Oh, yang anda maksud itu &lt;em&gt;autorickshaw&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;CNG&lt;/em&gt;. Kami menyebutnya bukan bajaj, meskipun aslinya memang bajaj yang berasal dari India." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280071105721894610" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUaUshVbhtI/AAAAAAAAACY/peCHwzo-jV0/s320/P8110220.JPG" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Autorickshaw&lt;/em&gt; CNG beraksi di jalanan kota Dhaka&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya pun akhirnya segera berangkat dengan menumpang &lt;em&gt;CNG&lt;/em&gt;. Pengalaman di Jakarta membuat saya membayangkan getaran yang harus diterima tubuh saya, kala menumpang &lt;em&gt;CNG&lt;/em&gt; alias bajaj yang berwarna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini, getaran itu tidak sehebat yang pernah saya rasakan di Jakarta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya saya baru tahu kalau ternyata semua bajaj di Dhaka menggunakan CNG alias &lt;em&gt;Compressed Natural Gas&lt;/em&gt;, sebagai bahan bakar. Nah, pemakaian CNG telah menyebabkan getaran bajaj di Dhaka tidak sehebat getaran bajaj di Jakarta. Pantas saja, mereka menyebutnya &lt;em&gt;CNG&lt;/em&gt;. Sementara istilah &lt;em&gt;autorickshaw&lt;/em&gt; muncul karena bajaj dianggap berasal dari rickshaw yang diberi tenaga motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru pengalaman pertama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berikutnya terjadi dua minggu kemudian. Di tengah perjalanan, &lt;em&gt;CNG&lt;/em&gt; tiba-tiba berbelok keluar dari rute yang biasanya saya lalui. Ternyata, &lt;em&gt;CNG&lt;/em&gt; alias bajaj perlu mengisi bahan bakar. Saya sebenarnya sedang keburu-buru. Jadi saya bilang, "Jangan mengisi sekarang deh. Nanti, kelamaan." Sang supir meyakinkan saya, "Hanya sebentar. Paling lama lima menit." Saya tidak percaya. Bagaimana pun, terbayang di benak saya antrian taksi di Jakarta yang hendak mengisi BBG, yang karena panjangnya malah menyebabkan kemacetan dan membuat penggunaan BBG tidak menarik perhatian... Meskipun diyakini, BBG lebih murah, lebih hemat dan lebih ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, janji sang supir bajaj tepat. Kami mengisi CNG tidak lebih dari lima menit. Padahal, ketika &lt;em&gt;CNG&lt;/em&gt; memasuki stasiun pengisian, di depan kami, ada tiga mobil sedan sedang mengantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Dhaka, yang banyak saya lihat memang hanya stasiun pengisian CNG. Jumlahnya jauh melebihi stasiun pengisian bensin premium atau pun solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, hanya bis luar kota saja yang masih mengisi solar. Sementara bus dalam kota, sebagian besar telah menggunakan CNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Bangladesh mungkin lebih ketinggalan dari Indonesia, tetapi penyediaan, ketersediaan dan penggunaan CNG cukup menakjubkan...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/606905254026267946-227271518354995916?l=irnasut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irnasut.blogspot.com/feeds/227271518354995916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=606905254026267946&amp;postID=227271518354995916' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/227271518354995916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/606905254026267946/posts/default/227271518354995916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irnasut.blogspot.com/2008/11/cng-autorickshaw.html' title='CNG... autorickshaw'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04778103841856112192</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUlMlHgA1HI/AAAAAAAAACo/O8TOA6dWErU/S220/P8300155b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4ghV9EksbuU/SUaRw85gWZI/AAAAAAAAACI/xvbf0DaxSmU/s72-c/P8140399.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
